PUKAU
Aku terpaku pada pukaumu yg menatap senja dengan kerangka seadanya. Hingga segenap cahaya menembus sekujur tubuhmu. Kau terlihat biasa saja tapi kau simpan segala kata. Agar dusta tak mencuri kata semena-mena.
Pukaumu silau
Pukaumu risau
Pukaumu pulau
Pukaumu pisau
Membedah dada dengan nyaris tanpa cela. Sayatan sempurna. Luka sederhana. Seruan lirih nir rasa perih.
Lantas siapa yg kau tunggu sia-sia. “Tak ada karena aku tak menunggu, tapi mencari!”
Mengolah rasa sepi. Di kaki matahari.
Yogyakarta, Feb 2012
read onJEMBATAN SUDAH LEWAT

Seorang teman lewat di ruang maya. Sekedar menyapa ia taruh sedikit tanda tanya. Apa kabar, misalnya. Lalu bergegas pergi tanpa menunggu jawabku. Tapi aku jadi lebih ringan, meletakkan kata tanpa beban. Jembatan sudah kulalui, menyorongkan salam, lalu sama asyik sendiri.
Halo, lagi apa? Menunggu hujan, jawabku. Mungkin ia heran musim hujan kok masih menunggu. Memang hujan di luar, di tempatmu barangkali, tapi bukan di ruangku. Sumuk. Udara kering. Malah kudengar tempatmu banjir,
read on
